Pendidikan Pesantren Di Masa Pandemi – PPM Baitussalam – Pondok Di Jogja

Prambanan –  Pondok adalah lembaga pendidikan Pesantren dimana kyai sebagai sentral figur, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya serta sebagai lembaga pendidikan dan penyiaran agama Islam.jiwa kepesantrenan tardapat pada pada 5 panca jiwa PPM baitussalam yaitu Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, Perjuangan. Jiwa Keikhlasan yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah, Kesederhanaan Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri, Berdikari kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya, Ukhuwah Islamiyah pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah Islamiah, Perjuangan merupakan bentuk kesungguhan guru-guru, karyawan dan keluarga besar pondok pesantren untuk membesarkan lembaga dengan ikhlas.

Dimasa pandemi covid 19 ini pendidikan pesantren harus menjiwai seperti yang tercantum di 5 panca jiwa pondok Pesantren, nilai-nilai jangan sampai hilang, keikhlasan dan jiwa kepesantrenan jangan sampai hilang harus lebih baik dan lebih baik,” ujar KH Hasan Abdullah Sahal. Pesantren merupakan wadah untuk mencetak anak-anak bangsa dan peran pesantren lebih utama dalam menghadapi ujian covid 19,Sekarang ini, guru atau ustadz tidak hanya dituntut untuk mengajar secara langsung atau secara offline akan tetapi mereka juga dituntut untuk ahli dalam mengajar secara daring atau online. Pada penerapannya tentu ada hambatan atau kendala seperti perangkat elektronik baik dalam kepemilikan maupun penggunaanya. Tidak semua peserta didik mempunyai perangkat elektronik laptop maupun smartphone. Untuk menjalankan pun juga membutuhkan kuota yang tidak sedikit jumlahnya, karena setiap pelajaran harus online. Ditambah lagi dengan kondisi perekonomian yang juga terkena dampak dari pandemi ini yang secara langsung juga berimbas pada perekonomian wali murid. Menurut Kemenaker ada 3,05 juta pekerja baik itu formal maupun non formal yang terkena PHK. Bagi pengusaha atau pekerja yang tidak terkena PHK pun tetap mengalami dampak dari pandemi ini. Misalnya pedagang yang sepi pembeli, angkutan umum yang sepi penumpang, pekerja seni seperti event organizer dan wedding organizer yang banyak mendapatkan pembatalan pekerjaan. Inilah saatnya peran pendidikan pesantren bisa memberikan dorongan dan motivasi untuk terus melangkah maju menuju ridha allah SWT.(Abi KaKa)

https://baitussalam.sch.id/

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *