MA’IYATULLAH – Pondok Pesantren Di Jogja – Pondok Tahfidz Di Jogja

Taujih Mingguan KH Abdul Hakim Aka, Selasa 29 Oktober 2019

RASA MA’IYATULLAH

Aqidah Islam menetapkan adanya  kebersamaan Allah, yaitu bahwa Allah Ta’ala senantiasa membersamai hambahamba-Nya. Ma’iyyatullah ini memiliki dua konteks, yakni ma’iyyah ‘ammah (kebersamaan dalam arti umum), danma’iyyah khashah (kebersamaan dalam arti khusus). Setiap seorang muslim harus mempunyai rasa ma’iyatullah dengan orang-orang beriman dan shaleh. Karena orang-orang beriman dan shaleh bisa mendekatkan kita kepada allah.dan orang yang beriman dan beramal shaleh akan dibersamai allah dengan khusus. Orang orang yang mempunyai sifat maíyah maka dirinya pasti akan tenang. Sudah pasti bagi seseorang yang tidak beriman pasti akan jauh dari Allah.

Ada suatu hadist muslim:“Dahulu aku memiliki seorang budak wanita yang menggembalakan kambing-kambing milikku di daerah antara Gunung Uhud dan Jawwaniyyah. Suatu hari aku menelitinya. Ternyata ada seekor serigala yang membawa seekor kambing dari kambing-kambing budak wanita itu. Aku adalah manusia biasa. Aku terkadang marah sebagaimana mereka marah. Maka aku menamparnya dengan sangat keras. Kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau mengatakan hal itu perkara yang besar terhadapku. Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidakkah aku merdekakan dia?’ Beliau berkata: ‘Bawa dia kepadaku,’ maka aku membawanya menghadap beliau. Beliau bertanya kepadanya: ‘Di manakah Allah?’ Budak wanita itu menjawab: ‘Di atas langit’. Beliau bertanya lagi: ‘Siapakah saya?’ Budak wanita itu menjawab: ‘Anda adalah utusan Allah’. Beliau bersabda: ‘Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang wanita mukminah’.” [HR Muslim, no. 537, dan lain-lain]

Kadang ada orang yang berungkapan bahwa allah selalu membersamai hambanya. Orang percaya ungkapan tersebut percaya bahwa zat allah membersamai dengan zat makhluknya. Dalm sebuah dalil dikatakan: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’’(at-taubah[9]:40). Dalam sebuah kisah, musa dan harun ketika dikejar oleh fir’aun karena berdakwah, musa dan harun terjebak di laut merah. Dan allah menyuruh musa mengetukkan tongkatnya ke tanah, maka seketika laut merah terbelah, maka musa, harun, dan kaummya selamat dari kejaran fir’aun. Dari kisah itu kita bisa tau bahwa allah selalu menolong hambanya yang berada di jalannya.

Ketika kita ada rasa ma’iyatullah dan niat yang kuat, insha allah apapun yang kita kerjakan selalu mudah dan senang. Dan setiap apa yang kita kerjakan juga harus dengan rasa ikhlas.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *