Sleman – Jumat, 10 Juli 2026, SMA Islam Terpadu Baitussalam menyelenggarakan Pelatihan Guru Mentor Riset (Research Mentorship Training) dengan pembicara Bapak Rudy Prakanto, M.Eng. Beliau merupakan Ketua Dewan Pembina dan pendiri FPPBI. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Gedung Pusat Lt. 2 Ponpes Modern Baitussalam ini dihadiri oleh seluruh guru dan karyawan SMA IT Baitussalam. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam membimbing dan mendampingi siswa melakukan penelitian ilmiah.
Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan pembukaan oleh Ustaz Rohmat Sugiyono, M.Pd., selaku pembawa acara dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Rifqi Firmansyah, Lc., M.H. Kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Baitussalam. Dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala SMA IT Baitussalam, Ustaz Gino Erman Agusta, S.Pd.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada narasumber, serta harapan untuk guru dan karyawan setelah dilaksanakannya kegiatan ini.
“Oleh karena mulai tahun ajaran ini sekolah kita mencanangkan program unggul dalam bidang riset, maka harapannya dengan pelatihan ini ke depan para guru dapat memberikan pendampingan yang optimal kepada para siswa saat pelaksanaan kelas riset. Sehingga nantinya akan lahir siswa-siswi yang mahir dan ahli dalam bidang riset,” pesan Ustaz Gino.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan sesi pelatihan. Dalam pelatihan tersebut, Bapak Rudy Prakanto, M.Eng. menyampaikan materi tentang “Strategi dan Metodologi Menjadi Guru Pembimbing Riset Melegenda: Sebuah Perjalanan”. Beliau membuka sesi materi dengan pemaparan bagaimana tantangan pendidikan di abad 21 yang dilanjutkan dengan bagaimana riset dapat memberikan manfaat bagi keterampilan siswa. Selain itu, beliau juga memaparkan tentang apa saja tantangan membangun budaya riset di sekolah. Mulai dari kurangnya minat, keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan guru, serta tekanan akademik. Dari tantangan tersebut, kemudian beliau mengaitkan dengan empat peran guru dalam memfasilitasi budaya riset di sekolah. Pertama bimbingan dan pendampingan, kedua pengembangan kompetensi, ketiga integrasi dalam kurikulum, dan keempat kolaborasi lintas disiplin. Beliau juga menambahkan apa saja aktivitas yang dapat mendorong budaya riset, serta bagaimana ide penelitian yang baik.
Setelah banyak motivasi dan arahan, beliau menjelaskan secara detail tentang bagaimana proses dalam melakukan riset, mulai dari perumusan masalah sampai menuliskan hasil laporan. Di akhir, beliau menambahkan tentang peran dan batasan pembimbing riset, serta standar pembimbingan yang sehat.
“Sebagai pembimbing riset, bimbinglah siswa dengan perasaan bahagia, tidak penuh tekanan. Sehingga siswa juga akan merasakan perasaan bahagia. Dari situlah riset yang mungkin terlihat berat akan terasa ringan dan menyenangkan,” tambah Bapak Rudy sebelum menutup sesi materi.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, doa penutup, dan foto bersama.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para guru semakin siap menjalankan perannya sebagai mentor riset yang mampu membimbing siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan ilmiah. Kegiatan ini juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat budaya riset di lingkungan SMA, sehingga mampu melahirkan generasi muda yang inovatif, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Bidang Humas Ponpes Modern Baitussalam)



