Sleman – Jumat, 15 Mei 2026, Ponpes Modern Baitussalam menyelenggarakan Pembinaan Guru Berkarakter QSL. Kegiatan Pembinaan Guru Berkarakter QSL (Qur’anic-Scientific-Leadership) merupakan program penguatan kapasitas dan karakter tenaga pendidik yang dirancang untuk membentuk guru yang berkepribadian Islami, unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan, serta memiliki jiwa kepemimpinan yang inspiratif. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring (melalui Zoom Meeting) dengan diikuti oleh seluruh guru baik dari unit pendidikan di Baitussalam 1, Baitussalam 2, Baitussalam 3, maupun Baitussalam 4.
Kegiatan dimulai pada pukul 15.30 WIB dengan pembukaan oleh Ustaz Rohmat Sugiyono, M.Pd., selaku pembawa acara dan dilanjutkan dengan tilawah oleh Ustaz Khoirul Walid, S.Pd. Acara selanjutnya yaitu sambutan oleh Ustaz KH. Abdul Hakim, A.Ka., selaku Pimpinan Ponpes Modern Baitussalam. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bagaimana transformasi yang dialami oleh Baitussalam mulai dari pesantren murni, kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan yang memadukan sistem pondok pesantren dengan pendidikan formal. Beliau juga menjelaskan secara terperinci bagaimana karakter QSL (Qur’anic-Scientific-Leadership).

Qur’anic berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh kehidupan. Dengan membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkannya, seorang pendidik tidak hanyamenghidupkan jiwanya sendiri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada para santri. Scientific menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Guru harus memiliki wawasan keilmuan yang luas, terbuka terhadap perkembangan sains, sehingga mampu mendorong santri untuk berpikir kritis, maju, dan adaptif terhadap perubahan. Leadership menegaskan bahwa pengembangan ilmu saja tidak cukup; perlu diimbangi dengan kemampuan memimpin dan memberi arah. Seorang guru harus mampu mengaplikasikan ilmunya dalam pembinaan karakter, serta menjadi penggerak kebaikan di lingkungan pendidikan
“Dengan tiga karakter tersebut, diharapkan para pendidik di Ponpes Modern Baitussalam mampu menjadi teladan sekaligus pengajar yang menanamkan nilai-nilai positif kepada santri. Sebab, pada hakikatnya setiap guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga contoh nyata bagi generasi yang dididiknya,” pesan beliau.
Acara dilanjutkan dengan materi dari Ustaz Drs. H. Hariri tentang Mencetak Santri yang Dekat dengan Masyarakat. Beliau menyampaikan bagaimana cara agar kehidupan kita meningkat, bisa dengan peningkatan kualitas diri, mujahadah (bersungguh-sungguh), muraqabah (senantiasa diawasi Allah), muhasabah (mengevaluasi diri), muaqabah (merasa menyesal). Selain itu beliau juga menyampaikan tentang metode kaderisasi santri Ponpes Modern Baitussalam dalam membentuk kader santri yang militan dan berkualitas. Terdiri dari beberapa faktor penting. Yang pertama memiliki mindset dan cita-cita yang kuat. Mindset menjadi modal dasar dalam membangun pondok. Tanpa cita-cita dan kesungguhan menjalankan program, perkembangan pondok akan terhambat. Kedua yaitu sistem pengkaderan yang bertahap. Pengkaderan dan pembelajaran dimulai dari hal-hal kecil. Semua proses tidak dapat dibangun secara instan, melainkan membutuhkan kedisiplinan dan kepatuhan. Yang ketiga kesetaraan dalam proses kaderisasi. Tidak boleh ada perlakuan istimewa (privilege) terhadap santri maupun ustaz/ustazah. Semua pihak harus mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama. Yang terakhir yaitu membutuhkan waktu yang panjang. Proses pembentukan kader memerlukan waktu, konsistensi, dan kesabaran agar menghasilkan pribadi yang kuat dan berkualitas.
Materi selanjutnya dari Ustaz Ali Muhsin tentang Al-Qur’an. Beliau menyampaikan tentang adab terhadap Al-Qur’an, baik batiniyah (internal) maupun dzohiriyah (tampak). Adab batiniyah yaitu ikhlas, istiqomah, dan ta’dzimul Qur’an. Untuk adab dzohiriyah yaitu memiliki akhlak yang mulia, berkarakter lemah lembut, siap menghadapi berbagai tantangan, memiliki harapan besar terhadap santri, serta menjaga performa dan kerapian berbusana. Beliau juga menambahkan tentang implementasi saat halaqah. Caranya dengan mengajar secara bertahap dan berurutan. Pembelajaran harus dimulai dari tingkat paling dasar. Ustaz/ustazah harus telaten dan siap mengulang materi apabila diperlukan. Kedua yaitu komitmen terhadap jadwal mengajar, menghargai waktu dan menjaga kedisiplinan dalam pelaksanaan halaqah. Terakhir yaitu memberikan hak-hak santri sesuai kemampuan. Setiap santri memiliki kemampuan yang berbeda. Ustaz/ustazah harus mampu memberikan pembinaan sesuai kapasitas dan kebutuhan masing-masing santri. Kegiatan pembinaan ditutup dengan penutup dan doa.
Melalui kegiatan tersebut, besar harapan agar para guru dapat termotivasi untuk terus semangat dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas diri dengan karakter QSL ini. Sehingga ke depan Ponpes Modern Baitussalam dapat terus melakukan perkembangan dan kemajuan. (Bidang Humas Ponpes Modern Baitussalam)


