Hari Santri Nasional

Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama. Santri selama ini digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren. Kata “pesantren” oleh sebagian kalangan diyakini sebagai asal-usul tercetusnya istilah “santri.”

Kata santri dalam Hari Santri Nasional memiliki arti luas yang belum sebagian orang tahu. Arti tiap dalam hurufnya itu adalah: Shin: bahwa santri itu harus mengaji dan mencari ilmu agama. Maka jangan mengaku santri kalau tidak mau mengaji dan tahaluf kepada para kiai karena kiai merupakan ulama pewaris Nabi yang bisa menghantarkan ia kepada syafaat Nabi, dan menyambungkan sanad keilmuannya kepada Rasulullah sang pembawa wahyu illahi. Alif: bahwa seorang santri itu harus berakhlaktul karimah seperti akhlak Nabi, dan menjaga adatnya sesuai nilai luhur tradisi. Maka jangan mengaku sebagai santri, jika tidak mampu ta’wil kepada kiai, suka menyesatkan agamanya sendiri, tidak bisa berbuat baik kepada non muslim dengan bertoleransi dan tidak mau berbakti kepada negeri, mencintai NKRI. Nun: bahwa seorang santri itu harus jadi pembela. Maka jangan mengaku santri jika tidak husnu wa kepada kiai, tidak mau berbakti, tidak mau membela kiai. Lebih-lebih mereka yang mengaku santri daripada membully, dan mengumbar kebencian kepada kiai dengan dalih bahwa kiai itu tidak layak diikuti. Ta: bahwa santri itu harus menjaga diri dari perilaku maksiat, menjadi pribadi yang taat kepada Allah, melaksanakan syariat Islam. Karena santri adalah garda terbesar bangsa dalam moral agama. Maka dia harus mampu menjadi teladan agama dan teladan bagi umat juga masyarakatnya dengan menjalankan syariat dan meninggalkan maksiat. Ra: bahwa santri itu harus gemar beribadah. Itulah mengapa santri selalu mengenakan sarung, baju takwa, dan kopiah karena santri adalah contoh dari kepribadian muslim yang gemar beribadah. Ya: bahwa seorang santri itu harus menjadi pribadi yang memberikan manfaat kepada lingkungan sekitarnya dan lingkungan keluarga, masyarakat, agama, bangsa hingga negara. Sebagaimana dicontohkan para kiai, dengan begitu Insya Allah dimana pun santri ia akan selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan hidupnya penuh barokah.

Istilah “santri”, menurut pendapat itu, diambil dari salah satu kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya “melek huruf” atau “bisa membaca”. Sanskerta merupakan bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddha, dan ajaran Jainisme, serta salah satu dari 23 bahasa resmi di India. Sanskerta pernah digunakan di Nusantara pada masa Hindu dan Buddha yang berlangsung sejak abad ke-2 Masehi hingga menjelang abad ke-16 seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *